Tuhan, Bolehkah Aku Meminta untuk Tidak Lupa?

Menjadi seorang pelupa memiliki rasa sakit yang berbanding lurus, agak besar sedikit nilainya dengan sakitya orang yang patah hati ditambah . Jika patah hati karena diselingkuhin, ditinggal mati, cinta bertepuk sebelah tangan, tida direstui, beda agama atau apapun masalahnya, maka pelupa berada di titik paling kompleks. Why? Coba ingat – ingat kapan terakhir lupa menaruh barang, lupa mengingat nama orang, lupa menghafal pelajaran, atau lupa apa yang akan dikerjakan. Coba diingat bagaimana rasanya? Apa yang kamu lakukan saat itu? Apalagi barang yang lupa di mana terakhir diletakkan itu adalah barang penting, tugas kuliah misalnya, uang misalnya, surat-surat penting mungkin, atau bahkan milik orang lain, titipan maupun sejenisnya.

Pelupa. Jelas bedanya kan dengan melupakan pastinya. Saya tak perlu menjelaskan. Basa – basi!

Saat ini saya benar-benar sedang merasakan bagaimana sakitnya menjadi orang pelupa. Bukan kali ini saja sebenarnya. Tabi’at saya memang pelupa. Sangat pelupa .-.  Mungkin indeks kelupaan saya mendekati 90%. Adakah yang tau bagaimana rasanya seorang pelupa yang sedang mengingat?

Ini lebih sakit dibanding cinta yang tak terbalas, dibanding dengan liat foto do’i sama cewe lain, dibanding digantungin si doi, dikasarin doi, dicuekin mantan, ditinggal nikah doi, di di di di di yang lain. Ini lebih sakit. serius! menjadi pelupa. Bahkan lupa menaruh sendok yang 1 menit sebelumnya baru dicuci. Bagaimana rasanya coba? Yang terakhir, saya lupa di mana menyimpan Laporan Praktikum milik kakak tingkat saya di saat sedang dibutuhkan. Ya, sekarang!

Bayangkan? jika laporan itu benar – benar hilang? Ah sudah! tidak mau membayangkan!

Selama satu semester ini, sudah sering sekali saya kelupaan. Dari hal menyimpan, membawa, sampai memberi. Saya pernah kehilangan kacamata, yang baru saja saat itu dipakai untuk nonton film, kemudian tidur dan setelah itu kacamata sudah tidak bisa kuingat di mana sebelum tidur aku taruh. Aku panik! Kacamata bukan hal sepele buat saya, bukan yang termasuk orang yang mudah membeli kacamata baru. Sedangkan jika tidak dengan kacamata, bagaiamana saya bisa melihat jelas dengan kondisi mata minus 2,5. Walaupun pada akhirya ketemu di tempat yang tak terduga. Saya pernah lupa membawa buku sama sekali ke kampus, tugas juga pernah. Sedangkan deadline hari itu juga. Saya pernah lupa tidak mengcopy file yang akan diprint ke flashdisk sedangkan yang diprint itu adalah tugas pagi itu juga. Saya pernah lupa . Lupa banyak sekali. Sampai saya lupa apa saja yang kelupaan selama ini.

Sekalian curhat,

Bahkan saat ini, rasa sakit menjadi seorang pelupa sedang digabungkan dengan rasa sakit yang ditimbulkan oleh seseorang. SESEORANG?

Baiklah. Doakan saja, semoga lekas ketemu laporan praktikum yang kucari itu. Sampulnya warna pink kalau gak salah, atau putih? tidak dijilid tapi disteples 3 samping kirinya. Ukuran folio bergaris dengan tulisan tangan. Ah! di mana siiiiiihhhhhhhh?????

Astaghfirullah…

Nyebut dulu.

Malam  1 Rojab, Allah. Tolong beri hamba ingatan, di mana laprak itu berada sekarang? secepatnya? Bolehkan aku meminta seperti itu, Allah?

*sambil menahan air mata*

-Gerimis Yogyakarta di malam 1 Rajab, Bulan tenggelam dalam awan-

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *