Semenghiurkannya-kah Menjadi Penghafal Al Qur’an?

pict by : Digital Cam Canon PS A2500
pict by : Digital Cam Canon PS A2500 Model by : Maulidiana Sakinah – Imersi angkatan 5

Pernahkah terlintas sebuah pertanyaan seperti judul di atas? Siapa pernah? Silahkan acungkan tangan, atau komentar di bawah ini. Hihihi.

Pagi yang dingin di kampung halaman, hahahaha . Pagi memang selalu enak untuk memulai sesuatu, termasuk menulis. Lumayan enak dibuat berdiskusi masalah Al Quran, biar tambah adem? Maksudnya? Hehehe, bukan, biar lebih hangat saja dengan bacaan dan tulisan yang bermanfaat. InsyaAllah.

Al Qur’an diturunkan sebagai kitab Allah yang paling akhir, sebagai wahyu untuk Rosulnya yang paling akhir pula. Karena yang paling akhir itulah Al Qur’an menjadi kitab penutup. Karena menjadi kitab penutuplah, Al Qur’an menjadi yang paling sempurna. Semua aspek yang terdapat di Al Qur’an adalah sempurna, dari isi maupun bahasanya. Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi ummat Muhammad, ummat paling akhir dari sekian banyak ummat yang ada di muka bumi sejak zaman Adam a.s. Al Qur’an adalah thing yang paling sempurna, juga istimewa. Siapa ummat islam yang berani mengatakan Al Qur’an tidak sempurna? InsyaAllah tidak ada. Naudzu billah. Tak perlu saya menyebutkan dalilnya, karena tulisan ini bukan untuk meyakinkan orang – orang awam tentang Al Qur’an, atau bahkan mengislamkan yang belum islam. Ini hanya untuk yang mau mendengarkan, yang sudah sadar fikiran  dan juga alam bawah sadarnya.

Menghafal Al Qur’an mungkin menjadi impian bagi sebagian besar ummat muslim yang ada di seluruh dunia. Menghafalnya berarti mencoba menjaganya agar tidak lenyap, meski Allah telah menjanjikan keamanan dan keabadian Al Qur’an sendiri. Tapi, para penghafal Al Qur’an memang akan tetap istimewa, karena ia membawa sesuatu yang istimewa dalam hidupnya, bahkan menyatu dalam tubuhnya. Saya sendiri memandang para penghafal Al Qur’an itu sangat istimewa malahan, karena tidak semua orang dapat memiliki keistimewaan tersebut. Hanya untuk orang – orang yang memiliki dedikasi besar dalam hidupnya untuk menyisihkan sebagian banyak waktunya untuk menghafal wahyu Allah ini. Dibilang susah, mungkin iya. Karena nyatanya tidak semua orang mampu menghafal sekaligus menjaga hafalannya. Dibilang mudah pun iya, karena sebenarnya bahasa Al Qur’an adalah bahasa yang paling indah yang pernah ada, sudah sepantasnya yang indah akan selalu diingat.

Jujur, tidak pernah terlintas di otak saya tentang pertanyaan di atas. Karena dari pandangan saya, memang sangat menghiurkan menjadi penghafal Al Qur’an itu. Wallahu A’lam, para hufadz adalah mereka yang diridhoi Allah untuk menjaga Al Qur’an-Nya. Pokoknya istimewa! Mereka adalah para shohibul Al Qur’an, yang hidupnya akan dijaga Al Qur’an dan Allah sendiri karena ia menjaga Alquran juga. Sopo sing ngropeni Qur’an bakal diropeni awake ding Qur’an. InsyaAllah.

Adakah yang tidak percaya betapa menghiurkannya menjadi penghafal Al Qur’an? Mungkin ada.

Para hufadz adalah sebaik – baiknya manusia, karena waktunya digunakan untuk hal yang mulia. Mereka akan dijaga sampai hari akhir tiba, bahkan saat di dalam kubur, ia akan selalu ditemani cahaya Al Quran. Subhanallah. Jaminannya surga. Allah sendiri yang menjamin, Allah menempatkannya sebagai hamba dengan kemuliaan yang tinggi.

Pernah saya mendengar cerita dari Abah Mukhlas tentang ini, beliau bercerita jika dahulu saat masih kuliah dan diwajibkan juga untuk menghafal Alquran dari universitasnya kemudian diujikan, itu adalah hal yang sangat mudah untuk ujian di universitas. Mengapa? Beliau mengaku mengahafal Al Quran itu mudah, semudah membacanya, hanya dengan duduk sekali dalam masjidil Harom dulu, ia mampu menambah hafalannya sampai 2 juz sekaligus muroja’ah hafalannya yang lama. Semua yang mendengar takjub, kemudian Abah hanya tersenyum, dengan tidak bermaksud sombong, beliau melanjutkan : “Wong menghafal qur’an itu mudah, Allah telah menurunkan Alqur’an dengan bahasa yang mudah agar mudah juga dihafal dan dibaca. Hanya saja kalian yang takut untuk memulai menghafal qur’an dengan banyak alasan, seperti saya takut tidak bisa menjaganya, mereka yang berlasan seperti itu mereka yang sebenarnya tidak ingin untuk menghafal qur’an”

Namun, untuk mendapatkan kemudahan tersebut, tentunya juga tidak mudah pula. Harus memilki komitmen menghafal, menjaga, mengamalkan. Juga untuk menjaga hati nya tetap bersih, agar menghafal lebih mudah. Menurut saya, yang paling susah adalah membersihkan hati, menghindarkannya dari penyakit hati dan maksiat. Perilaku dan akhlak pun ternyata berpengaruh dalam mewarnai hati. Maka dari itu, menghafal Al quran itu istimewa. Menghiurkan sekaligus mulia.

Wallahu a’lam.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *