Ramadhan Yaa Ramadhan

Marhaban Yaa Ramadhan, Marhaban Yaa Ujian!

Kalender Hijriyah dengan kalender Masehi memiliki perbedaan dalam jumlah harinya yang disebabkan oleh patokan yang digunakan dalam kalender Masehi adalah perputaran bumi mengelilingi matahari, sedangkan yang digunakan dalam kalender Hijriyah adalah perutaran bumi terhadap bulan. Hal tersebut menjadikan momen ujian akhir semester tahun ini bertepatan dengan bulan Ramadhan. Artinya bagi umat muslim akan ada dua ujian di bulan mulia ini, yakni ujian akademik dalam Ujian Akhir Semester sekaligus ujian dalam menahan hawa nafsu alias puasa.

Dengan diselenggarakanya UAS di FTP dan fakultas-fakultas lain di UGM, tentunya akan membawa kesan yang berbeda bagi para mahasiswa. Akankah UAS bertambah susah karena lapar? Atau justru sebaliknya? Jawabannya ada pada diri masing-masing mahasiswa. Puasa bukan sekedar tidak makan dan minum serta tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar hingga bedug maghrib ditabuh. Namun, puasa lebih dari hal-hal yang dianggap sangat menyusahkan, apalagi dengan kondisi cuaca di Yogyakarta sekarang ini yang sedang ekstrim panasnya.

Mahasiswa sudah sepantasnya bijak dalam menghadapi situasi seperti itu. Puasa bukan hal yang menakutkan sampai kita takut kelaparan dan mengakibatkan konsentrasi kita saat mengerjakan soal ujian jadi kacau. Sejatinya, puasa adalah proses pengendalian diri. Pengendalian hawa nafsu untuk lebih sabar. Barangkali puasa tahun ini yang mengantarkan kita semua sukses UAS karena keikhlasan dan kesabaran atas dua ujian yang dialami. Lebih-lebih jika tujuan puasa yang dituangkan dalam ayat ke-a83 dari Surah Al-Baqarah yang berbunyi: Yaa ayyuhalladziina aamanu kutiba‘alaikumushshiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina min qablikum la’allakum tattaquun.

Pada ayat di atas, jelas bahwa Allah memanggil manusia yang beriman untuk melakukan puasa. Dibuktikan dengan penggunaan kata Kutiba yang artinya “dituliskan”, namun para jumhur ulama memaknainya “wajib”. Setelah itu Allah menggunakan kata Shiyam untuk perintah puasa, padahal Shiyam memiliki padanan kata bentuk mashdar dari kata Shooma, yaitu Shoum, yang berarti sama pula, puasa. Menurut para ahli tafsir, Shiyam digunakan oleh Allah sebab Ia menghendaki kita agar ada satu prinsip-prinsip nilai yang akan melekat dan ditegakkan setelah puasa berakhir, bukan sekedar shoum dengan nilai-nilai puasa secara universal yang setelah Ramadhan berakhir, maka nilai-nilai tersebut berakhir pula. Kemudian, Di akhir ayat Allah mengatakan la’allakum tattaquun, yang artinya agar kalian semua bertakwa. Maka, jika kita telah mencapai puasa yang ikhlas sampai tujuan yang diharapkan oleh Allah tercapai, bukan tidak mungkin orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah akan diberi kemudahan. Apalagi sekedar kemudahan dalam mengerjakan soal ujian. Yang perlu kita persiapkan adalah hati, untuk bersiap menghadapi UAS di sela-sela puasa. Hati untuk berhusnudzon, bahwa UAS di bulan Ramadhan adalah salah satu taqdir Allah, dan Allah tidak mungkin menjadikan puasa Ramadhan ini menjadi penyusah hamba-hambanya, melainkan menjadi salah satu jalan agar UAS tahun ini lebih berkah dengan ditemani Ramadhan.

Marhaban Yaa Ramadhan Kareem!

 

Tulisan lama menjelang Ramdhan dan UAS semester 2
*Diterbitkan di Buletin EMBUN KMMTP (Keluarga Mahasiswa Muslim Teknologi Pertanian) UGM 2016 Edisi Ramadhan

Link digital dapat diakses di sini

Facebook Comments

Leave a Reply

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *