Semakin Dekat dengan Irradiasi Pangan

Dalam Teknologi pertanian untuk pangan, irradiasi atau pemberian sinar radiasi untuk meningkatkan mutu sudah menjadi suatu hal yang biasa. Namun, tidak untuk masyarakat umum apalagi bagi kalangan menengah dan bawah. Dr. Ir. Chusnul Hidayat dan M Ilma Muslih Al Muzakki menjawab problematika teknologi tersebut dalam forum diskusi tentang Iradiasi Pangan yang diadakan oleh ASC (Agritech Study Club) dan Kommun (Komunitas Nuklir Nasional), Senin sore (9/11).  Diskusi yang diadakan di ruang 105 gedung Fakultas Teknologi Pertanian UGM ini membawa judul Bincang – Bincang Nuklir : Iradiasi Pangan, Solutif atau Polemik yang mengupas tentang Food Irradiation.

Irradiasi pangan sejatinya telah ada sejak tahun 1921 oleh organisasi – organisasi pangan dan kesehatan dunia seperti IAEA, WHO, dan FAOH. Sebenarnya apa itu Iradiasi? Irradiasi pangan adalah penyinaran pangan dengan sinar radioaktif yang bertujuan awal membunuh mikroba berbahaya seperti bakteri E.Colli dan Salmonela Thyposa pada sejumlah prduk pangan maupun bahan pangan. Negara yang sudah menerapkan teknologi ini di antaranya adalah Argentina, Malaysia, China. Sedangkan negara kita baru memulainya pada produksi rempah – rempah.

Tahun 1987 di Belanda sudah menerapkan irradiasi pangan terhadap rempah – rempah yang dilakukan di ruang instalasi dan hasilnya adalah mikroba pengganggu hilang sesuai tujuan. Jenis irradiasi ini menggunakan Gamma Ray Co60  Cs137 yang telah direkomedasikan penggunaannya oleh FDA.  Sedangkan UK memulai irradiasi pangan untuk produk sayur  – sayuran dan buah

Pembicaraan semakin menarik saat beralih ke sesi tanya jawab interaktif dengan dua termin. Pertanyaan yang paling mendasar dari diskusi ini adalah Apakah makanan yang diradiasi tetap aman? Pembicara pertama, yaitu Dr. Ir. Chusnul Hidayat menjawab dengan tegas bahwa akan tetap aman makanan yang diradiasi, walaupun kemungkinan ketidakamanan atau kerugiannya tetap ada, namun kecil. Bahkan beliau membandingkannya dengan penambahan bahan kimia yang jauh lebih berbahaya.

Sumber Batan menyebutkan, irridiasi untuk bibit kaya beras sudah dilakukan di Salatiga. Irridiasi ini tidak akan merubah tekstur, hanya mutasu bibit agar menjadi lebih baik. Jenis pangan lain yang sedang diusahakan yaitu kedelai dan sorgum. Teknologi irridiasi pangan sendiri seharusnya menjadi bagian penting dalam industri pangan atau pertanian, karena sejatinya industri pangan adalah usaha dalam pemuliaan tanaman.

Mekanisme irradiasi sendiri bersumber dari energi sinar gamma yang menyerang DNA bakteri menyebabkan DNA tidak berkembang biak. Misalnya pada irradiasi pangan dengan sasaran mikrobia jamur, sinar akan menembak DNA pada mikrobia jamur tersebut akibatnya jamur akan rusak dan tidak akan tumbuh. Berbeda untuk pemuliaan tanaman, radiasi dilakukan dengan dosis sinar yang rendah, kemudian terjadilan mutasi genetik dan setelah melalui proses reaksi yang cukup, tanaman akan tumbuh lebih baik. Sedangkan pada bibit, irradiasi ditujukan untuk mencari sifat terbaik dari bibit. Sinar yang digunakan memiliki ambang batas tertentu, ketika sinar yang diberikan melebihi batas yang ditentukan bibit tersebut justru akan mati. Tetapi untuk kebutuhan tertentu, dosis sinar yang besar tetap tidak apa – apa asalkan dilakukan secara bertahap. Hasilnya adalah bibit menjadi pendek namun lama simpan.

Termin dua semakin menarik saat pertanyaan kesiapan dan kemampuan Indonesia dalam mengadopsi teknologi ini. Menurut Pembicara 2 jawabannya ada di harga. Sebenarnya bukan maslah tingginya harga saat proses namun lebih pada lamanya logistik yang menyebabkan harganya tidak terjangkau. Ini yang membedakannya dengan di China yang memiliki sistem logistik canggih dengan subsidi yang lancar pula. Ditambah dengan infrastruktur memadai sehingga tidak heran jika China adalah negara dengan penggunaan irradiasi pangannya berkembang lebih cepat dari negara lain. Selain itu, asumsi masyarakat sendiri yang menganggap radiasi itu berbahaya juga memengaruhi pertimbangan teknologi ini jika dilakukan di Indonesia. Masyarakat hanya memiliki 2 acceptensi tak mendasar yaitu takut dengan radiasi, yang kedua takut dengan nuklir dan atom. Padahal tanpa disadari tubuh manusia sendiri pun sudah tersusun atas atom _ atom yang saling bergabung.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *