Hari Santri, Sebagai Refleksi Pencitraan Seorang Santri Masa Kini

Kamis, 22 Oktober 2015 tiba – tiba berubah menjadi hari bersejarah di Indonesia sekarang hingga kelak nanti. Hari ini, resmilah sudah Hari Santri Nasional pertama kalinya dirayakan. Banyak sekali euforia dari seluruh santri di negeri ini. Dari sabang, sampai Merouke, dari pelosok sampai pelosok lagi, dari belahan desa Indonesia yang entah di mana tepatnya, sampai di pusat negeri ini. Semenjak ditetapkannya 22 Oktober adalah peringatan Hari Santri Nasionl oleh Pak Presiden, Joko Widodo, semarak kebangkitan santri mulai bertebaran lewat media apapun. Koran, majalah, baik digital maupun cetak, dan yang paling gencar adalah media sosial. Ramai – ramai para pengguna media social yang berlatar belakang santri menyambut datangnya hari ini dengan memasang foto – foto poster dan banner Hari Santri Nasional dengan hashtag #darisantriuntuknegri #alasantri #ceritasantri dan masih banyak lagi hastag yang bertebaran.

Apa sebenarnya esensi dari santri itu sendiri? Mengapa harus bangga dengan predikat santri? Marilah di hari santri ini kita jadikan refleksi untuk memperbaiki diri, menilik kembali siapa kita, siapa santri.

Santri, menjadi santri atau tidak adalah pilihan. Siapapun boleh menjadi santri. Tua , muda, kaya, miskin, yang di desa, yang di kota, siapapun! Awalnya, santri memang sebutan bagi para pencari ilmu yang mukim di sebuah pondok atau pesantren dan mengabdikan hidupnya kepada Yai nya, menghabiskan sisa mudanya untuk mengaji dan mengaji. Santri diperlambangkan sebagai sosok yang serba baik. Dari akhlaknya, dari kehidupannya yang sederhana, rajin beribadah dan semua perlambang baik yang lain. Siapapun santri, jika memang memenuhi kriteria perlambang baik itu. Gus Mus pernah ngendika bahwa santri bukan yang mondok saja, tapi siapapun yang berakhlak santri, dialah santri.

Santri juga sangat khas dengan kehidupan prihatin nya. Kehidupan yang serba kekurangan semasa hidup di pesantren, pakaian ala kadarnya, lusuh, tempat sempit, kotor, kolot, sampai kudet. Santri identik dengan yang demikian. Sarungnya, pecinya, bukunya, kitabnya, Al Qurannya. Santri memang penuh cerita, sebanyak aksara yang telah ia kaji, sebanyak huruf Al Quran yang ia baca, sebanyak tirakat yang dilakukannya, sebanyak ta’dzimnya kepada para guru, sebanyak – banyaknya cerita santri tidak akan pernah habis untuk diceritakan.

Banggakah menjadi santri? Ketika ia diletakkan hanya sebagia identitas saja. Ketika kesederhanaan hanya ada sewaktu di pesantren. Ketika perkataan baik hanya terucap semasa mondok. Ketika lantunan ayat Al Quran diperdengarkan hanya karena tuntutan dari pondok. Kini, banyak santri yang asli dari pondok pesantren, ketika keluar atau lulus dari pesantren tidak ada bedanya dengan yang dulu tidak mesantren. Lalu, kemanakah esensi santri yang dulu?

Hari santri bukan semata – mata sebagai hari peringatan. Namun, sebagai pengingat kembali siapa santri sebenarnya. Kontribusi apa yang santri mesti perjuangkan untuk negri. Santri seperti apakah yang layak disebut santri. Dan yang paling krusial adalah sejauh mana yang kita berikan kepada negri sebagai sosok santri yang katanya dibutuhkan oleh negri saat ini. Peringatan 22 Oktober sebagai Hari santri tidak hanya dengan memamerkan foto – foto kirab santrinya, menggunakan caption saya bangga dengan santri, saya santri sejati, saya santri sampai mati, ala santri, ceritasantri dan banyak lagi caption yang lain. Bukan hanya itu, bukan masalah sesederhana upload fotonya. Namun, lebih pada introspeksi diri. Bagi yang dulu mengaku pernah mesantren dan dianggap menjadi santri, masih seperti santrikah kita? Masih mau mengajikah kita? Masih sederhanakah kita? Masih ta’dzimkah kita? Masih masih masih masih bnyak lagi hal yang perlu kita koreksi.

Inilah hari Santri, sebagai moment kebangkitan fikiran pribadi. Bagi yang kesantriannya telah hilang, telah dirnggut oleh pergaulan, telah digerus arus keduniaan, marilah bersama – sama, lewat Hari Santri kita jadikan negri ini berakhlak santri. Berhaluan Islam yang moderat, yang cinta negri. Tunjukkan dan buktikan bahwa sekarang saatnya santri pimpin negri. Dan mari bangkitkan harapan Indonesia yang bersih dari korupsi, bersih dari kotoran kotoran hati manusiadengan akhlak yang terpuji.

Bangkitlah santri. Bangkitlah Negri. Bnagkitlah Indonesia.

Salam santri Nusantara,

Dari hiruk pikuk Yogyakarta yang tidak terlalu ramai dengan Hari Santri.

22 Oktober 2015

Facebook Comments

Leave a Reply

6 Komentar


  1. saya kesulitan mendeskripsikan tentang santri. itu tak jauh beda dengan “siswa”. apa yang dinilai belum tentu berlaku sama dengan siswa lain kala sekolahnya berbeda. Demikian hal nya dengan santri.

    saat saya menilai santri, tentu sudut pandang saya mengarah pada santri di 1 pesantren saja yang bisa saja berbeda dengan pesantren-pesantren lain. rumit, sehingga perlu berhati-hati agar tidak terjebak justifikasi yg menyesatkan.

    Met hari santri.

    Balas

    1. padahal santri itu sendiri adalah orang yang sederhana, kenapa yang memikirkan santri itu yang rumit yah hehehee 😀

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *