Bersama Wangi Kopi di Yogyakarta

Hidup adalah soal berlari. Berlari mengejar masa depan sekaligus berlari meninggalkan masa lalu. Ada banyak hal yang patut disyukuri dibanding disesali. Ada banyak hal yang patut disenyumi, dibanding dicemburui. Ada banyak yang meninggalkan, namun bersyukurlah banyak juga yang datang. Hidup itu memang datang dan pergi. Seenaknya sendiri. Namanya juga dunia, diciptakan untuk tempat pengujian.

Tentu, hidup tidak akan indah dengan masalah. Jalani saja senatural mungkin, seenergik mungkin untuk bertahan. Jangan suka menyesal, hidup itu apa adanya. Ia berhadapan dengan masalah yang bergelombang kontinuitas, bersambung terus tidak akan pernah berhenti. Satu masalah usai, yang lain menghampiri. itu sudah menjadi hukum alam, datang dan pergi dengan batas yang tak terhingga.

Ketika dunia berubah mejadi sangat kelam, alam menyediakan keindahannya untuk disyukuri. Ketika keadaan hidup sendiri tak seindah hidup orang lain, para pengemis dan tuna – tuna di jalan menyediakan kesempatan untuk berbagi agar lebih bersyukur nanti. Ketika banyak orang yang membenci, pasti banyak orang yang datang untuk mencintai dan menghargai. Ketika mimpi terasa sangat jauh untuk digapai, prestasi – prestasi kecil dari apa yang disebut nilai ulangan biasanya menjadi hal yang paling disyukuri dan dibanggakan. Ketika cinta tidak terbalas, Tuhan kita menyediakan cintaNya untuk dinikmati.  Mengapa tidak? Hidup itu sederhana. Tenang saja, antara dua pilihan, memilih bahagia atau tidak.

Banyak sekali yang bersedia membuat tersenyum, tertawa, terbahak, dan menciptakan hal – hal gila. Jangan bersedih, tersenyumlah. Sahabatmu, teman – temanmu, keluarga, jauh lebih faham bagaiaman membuat kawannya tertawa. Atau bahkan sekalipun tidak ada pacar yang biasa membuat tersanjung. Mereka jauh lebih peka akan kebahagiaan kita. Sederhana ya. Berlari saja sekencang – kencangnya, gandeng tangan sahabat, ajak mereka tertawa. Gandeng senyuman keluarga, bawa mereka ikut menyembuhkan luka.

Pagi Yogyakarta, Pagi Ibuku yang semakin bersahaja, pagi Bapakku yang semakin sederhana, Pagi Mamasku yang semakin giat bekerja, pagi mbakku yang semakin sabar mengurusi keluarganya, pagi dua kakekku yang semakin rajin mengulum pahala, pagi keponakanku yang semakin lucu, pagi sepupu – sepupuku yang semakin semakin semangat belajar di bangku sekolahnya, pagi paman – paman dan bibiku yang semakin bersyukur dengan hidupnya sekarang, pagi Alhikmah 2 yang semakin kurindukan, pagi Abah Muhlas yang semakin kurindukan nasihatnya pula, Pagi guru – guruku yang semakin giat mentransfer ilmu, pagi adik – adik kelasku yang semakin semangat mengerjakan UAS, pagi UGM yang semakin kokoh dengan prestasi – prestasinya. Pagi fog ku, pagi orang misterius dalam hatiku.

Di pondok kecil ini, bersama harum hangatnya wangi kopi pagi hari, semoga Allah meberkahi hari kita dan menggolongkan dalam golongan yang senantiasa bersyukur. Aamiin.

Facebook Comments

Leave a Reply

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *