Antara Sarapan Bergizi dengan Dompet Tipis

Pagi ini, Yogyakarta cerah – cerah saja seperti biasanya. Entah karena mimpi semalam yang sangat absurd, bangun – bangun perut ini jadi sangat lapar. Setelah dengan pertimbangan yang sangat matang (padahal, antara malas dengan susah bangun yang beda – beda tipis) aku putuskan mandi untuk menyegarkan fikiran dan refresh muka. Berharap setelah mandi rasa laparitu bisa dilupakan, tapi eeeeeeh ternyata semakin menyiksa. Pagi ini sebenarnya pengen mencicipi nasi goreng burjo di depan gang kos. Tapi apalah daya mengingat uang di dompet sudah benar – benar ngepress untuk seminggu ke depan menunggu kiriman -uang datang. Hiks Hikss -_- Kukubur lagi ngidam nasi goreng itu.

Sebenarnya agak frontal diceritakan, karena takut dikira sebagai cewek shopaholic karena belum ada seminggu uang 500 sudah mau ludes dan parahnya akutidak tau dengan pasti uang sebanyak itu habis untuk apa saja dari kemarin.

Ceritanya, yang paling kuingat adalah tepat di hari Ahad kemarin yang akhirnya membikin moodbooster ku naik turun abis kayak rollingcoaster. Tugas kelompok Pengantar Teknologi Pertanian-ku belum selesai di garap. Aku di posisi sebagai penyusun dan penyunting laporan sekaligus seharusnya sudah menyelesaikan tugas di hari itu juga. Sedangkan ada satu anggota dari tim yang mengacaukannya gegara telat mengumpulkan laporan acara survey pasar ke emailku. Dan apesnya, kuota internet untuk modemku habis. Parahnya, hotspot selulerku tiba – tiba limit sinyal. Cobaan apa lagi ini?????

Seorang anggota pengacau itu tiba – tiba mengakui kesalahannya dengan tampang yang sangat tidak berdosa, antara polos dan kurang ajar, dia mengaku telat mengirim email karena pulsa habiss, warnet jauh, dan akhirnya ia tinggal untuk latihan UKM renang. Apaan ini?? Warnet jauh? konter jauh? Lalu untuk apa dia punya motor??????!! Sumvaah serapah aku dalam hati, tapiiii ya sudahlah. Percuma marah pun tidak akan menyelesaikan tugas.

Akhirnya aku mengalah, aku pinjam sepeda teman kost untuk membeli kuota ke konter terdekat. Aku pilih paket internet dari kartu yang katanya paling mahal, paling ampuh cepetnya, paling available di segala tempat dan kondisi sinyal. Oke, kulayangkan 60 ribu hanya untuk sehari itu. Padahal, uang living cost dari PBSB belum juga keluar. Rencananya, selama membutuhkan internet, aku hanya akan memanfaatkan wifi kampus, artinya aku akan online di jam – jam kampus. HEMAT! Tapi akhirnya rencana itu gagal di hari gloomy itu.

Setelah kubawa ke kost, aku pasang ke modem yang juga satu perusahaan dengan si kartu internet itu. JLEGG!! Tab email loading sampai setengah jam kursornya cuma muter – muter. N**r. Kata – kata kasar terpaksa keluar saat itu. eh, di dalam hati sih, gak berani muncul ke permukaan. Ini apanya yang salah sih? laptopnya? modemnya? kartunya? Ini biasanya sinyal bagus kok. Padahal kartu apa saja biasanya available signal di kamar kosku.

Kalut! aku pindah tempat. Husnudzon mungkin aura kosku memang jelek. Kubawa laptop ke kamar sebelah, berharap ada pencerahan sinyal yang lebih baik. Tapi sial!! SAMA SAJA. Akhirnya aku infokan teman – teman satu kelompok kerjaku bagi siapa saja yang bisa online saat itu juga, tolong bukakan email dan selesaikan tugasnya. AKU LELAH. AKU MENYERAH. Ini bukannya tidak pengen usaha ke warnet dulu, tapi sudah menjadi kebiasaan kalau warnet atau pun fotocopyan di Yogyakarta tutup di hari libur. Tidak semua sih, tapi kebetulan di daerah kosku tutup, sedangkan aku tidak punya kendaraan yang memadai untuk ke warnet yang jauh.

Aku tetap mencoba dengan berbagai cara pindah laptop dengan modem yang sama, kartu dipasangkan ke hp, tetap saja LOLA. Hingga pada akhirnya, percobaan terakhir menyimpulkan bahwa modemku RUSAK 🙁 Cobaan macam apa lagi ini? :'( pengen nangis tapi malu udah gede. Akhirnya, dengan kesal, aku keluar kost menuju swalayan depan gang. Aku bawa uang sebanyak – banyaknya dan di sana aku belanja sepuas – puasnya. Beli cemilan sebanyak – banyaknya, cokelat, buah, sampai susu yang tidak aku doyanpun aku beli.

Alhasil, ludeslah uangku. Tersisa untuk makan satu kali sehari selama seminggu ke depan.

Khilaf mungkin, dan baru terasa sekarang, saat mau sarapan harus mikir 2000 x dulu untuk menghitung pengeluaran. Untungnya, berkat belanja kemarin, aku beli susu dan roti sandwich *gayabanget kan ya?? Udah kaya bule aja sarapan pakai roti sandwich, susu panas, sama crackers keju. Wkwkwk

Ini nasib antara sarapan bergizi dengan kantong tipis. Mau gimana lagi? Saat emosi dan nafsu tidak bisa dikendalikan. Yang namanya cewe pelampiasannya sama cokelat dan belanja banyak. Iya sih, sekarang sudah pulih dari badmood sisa kemarin, tapi sedih karena uang hilang banyak masih belum bisa diobati. Satu – satunya cara adalah menghemat dan benar – benar harus mengatur pola makan. Pola makan kapan yang tepat agar bisa bertahan selama sehari hanya keluar 10.000 saja.

Beginilah, liku liku anak kost.

 

Salam dari secangkir susu hangat.

Yogyakarta, 13 Oktober 2015

Facebook Comments

Leave a Reply

1 Komentar


  1. nasib anak kost. banyak orang hebat dan sukses berawal dari kesulitan saat di perantauan. terutama menjadi anak kos 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *